Hukum terlibat dalam budaya “S-Line” dan perbuatan menzahirkan aib secara sengaja dan terbuka adalah haram.
Menurut Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan, trend “S-Line” yang menormalisasikan pendedahan aib dan kisah seksual secara terbuka bukan sekadar melanggar batas moral, malah bertentangan dengan tujuan syariah dalam membentuk kehidupan beragama dan membina masyarakat yang berakhlak serta sejahtera.
KUALA LUMPUR: Hukum terlibat dalam budaya “S-Line” dan perbuatan menzahirkan aib secara sengaja dan terbuka adalah haram.
Menurut Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan, trend “S-Line” yang menormalisasikan pendedahan aib dan kisah seksual secara terbuka bukan sekadar melanggar batas moral, malah bertentangan dengan tujuan syariah dalam membentuk kehidupan beragama dan membina masyarakat yang berakhlak serta sejahtera.
Selain itu ia meruntuhkan sifat malu, menghilangkan sensitiviti terhadap dosa serta merosakkan struktur masyarakat yang bermaruah.
“Berdasarkan panduan wahyu yang jelas, sesiapa yang cenderung kepada penyebaran maksiat akan dikenakan azab yang pedih di dunia dan akhirat, meskipun hanya dalam bentuk kecenderungan hati.
“Justeru itu, hukum terlibat dalam budaya “S-Line” dan perbuatan menzahirkan aib secara sengaja dan terbuka adalah haram,” kata perkongsian Pejabat Mufti Wilayah menerusi perkongsian Bayan Linnas Siri ke-321.
Perkara itu juga membuka ruang kepada dosa, fitnah dan kerosakan sosial yang lebih besar, oleh itu umat Islam wajib menolak budaya ini dengan ilmu, iman dan dakwah berhikmah.
Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan dalam pada itu menasihatkan sebagai langkah pencegahan, institusi keluarga, sekolah, media dan pihak berautoriti disaran memperkukuh pendidikan akhlak, memperketat kawalan kandungan digital serta memperluas kempen kesedaran agar maruah umat dan nilai agama sentiasa terpelihara.
Trend “S-Line” yang tular di media sosial dilaporkan merupakan satu bentuk normalisasi maksiat yang berselindung di sebalik naratif hiburan.
Berinspirasikan daripada drama Korea, ia digunakan untuk mendedahkan kisah aib dan pengalaman seksual secara terbuka, sekaligus mencabar ajaran Islam dan nilai budaya Timur.
Oleh itu penyebaran kandungan seperti ini khususnya kepada golongan muda dan pengguna media yang mudah terpengaruh, berisiko merosakkan akhlak serta melemahkan maruah umat Islam. — AlHijrah Online
Related
Discover more from ALHIJRAH ONLINE
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager