WELLINGTON: Pengganas yang menyerang masjid di Christchurch sedang pertimbang untuk mengemukakan rayuan terhadap hukuman penjara seumur hidup, atas alasan pengakuan bersalah terhadap kejadian tembakan pada 2019 dibuat di bawah tekanan, kata peguamnya.
Brenton Tarrant, 31, berasal dari Australia mengaku bersalah terhadap 51 pertuduhan membunuh, 40 dakwaan percubaan membunuh dan satu dakwaan keganasan ketika didakwa di mahkamah tahun lalu.
Dia dihukum penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, kali pertama hukuman penjara seumur hidup dijatuhkan di New Zealand.
Tarrant tidak menawarkan sebarang pembelaan pada masa itu tetapi peguamnya, Tony Ellis berkata, warga Australia itu mempersoalkan keputusannya untuk mengaku bersalah.
Ellis berkata, lelaki itu mendakwa pengakuan itu dibuat di bawah tekanan kerana dia diberi ‘layanan yang tidak berperikemanusiaan dan menjatuhkan maruah dirinya’ semasa ditahan reman.
“Dia memutuskan bahawa jalan keluar paling mudah ialah mengaku bersalah,” kata Ellis kepada Radio New Zealand.
Ellis dilaporkan mengambil alih sebagai peguam Tarrant sebelum siasatan koroner ke atas insiden tembakan pada Mac 2019 itu dan menasihatkan anak guamnya supaya memanfaatkan haknya untuk mengemukakan rayuan.
“Dia dihukum lebih 25 tahun, ia adalah hukuman tanpa harapan dan tidak dibenarkan, ia adalah pelanggaran Rang Undang-undang Hak,” kata Ellis.
Tarrant menyerang jemaah ketika solat Jumaat di Masjid Al Noor Christchurch dengan senjata separa automatik, sebelum bergerak ke Pusat Islam Linwood, sambil menyiarkan secara langsung pembunuhan itu.
Mangsanya semuanya beragama Islam dan termasuk kanak-kanak, wanita dan warga emas.
New Zealand tidak mempunyai hukuman mati dan dalam menjatuhkan hukuman pada Ogos tahun lalu, Hakim Cameron Mander berkata beliau mengenakan hukuman paling keras terhadap tindakan “tidak berperikemanusiaan” Tarrant.
“Jenayah anda sangat kejam, walaupun anda ditahan sehingga anda mati, ia tidak akan setimpal dengan hukuman dan kecaman sewajarnya,” kata Hakim Mander ketika itu.
Ellis enggan mengulas ketika dihubungi AFP, dengan berkata anak guamnya mengarahkannya untuk bercakap hanya dengan media tempatan terpilih.
Mahkamah Koroner tidak segera menjawab permintaan untuk memberi ulasan. – AlHijrah Online
Related
Discover more from ALHIJRAH NEWS
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager